.: Musim Gugur Kedua di Melbourne :.

20 Februari 2015

Tiba-tiba mataku tak sengaja tertumbuk pada iklan White Night Festival 2015 yang terpasang di Royal Park Station, di suatu sore yang gerah ketika pulang dari sebuah acara di Clayton.

Ingatan jadi melayang ke Februari tahun lalu. Persis tanggal 20, di akhir musim panas menjelang musim gugur seperti sekarang ini, menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di benua Australia. Udah setahun rupanya kami sekeluarga diboyong suami ke sini.

How time flies… so fast.

Kota dan negeri yang indah, InsyaAllah telah banyak sekali memberi kami hikmah dan pelajaran hidup tak ternilai. Alhamdulillah untuk semua nikmat-Mu ya, Illahi Rabbi.

.: Berpetualang di Sovereign Hill, Ballarat :.

Awal Maret di penghujung summer, Mas Bayu sekeluarga ngajakin double date ke Ballarat. Ballarat itu kota kecil di negara bagian Victoria, sekitar 347 km jauhnya dari Melbourne. Kebetulan sedang libur panjang karena ada hari libur nasional, jadi yukkk…. Mari berangkat Minggu pagi pukul 10.

Perjalanan panjang ke sana hanya memakan waktu 2,5 jam karena melewati jalan tol di mana kecepatan mobil telah diatur; 100 km/jam. Whuuusss, kebayang kan gimana ngebut dan cepetnya kami melaju. Tapi nyaman banget berkendara di sini, ga terasa kayak ngebut karena semua kendaraan kecepatannya tuh konstan dan aspalnya mulus. Tiap lajur pun lebar-lebar. Yang unik sepanjang perjalanan kami adalah rambu bergambar kangguru, artinya kurang lebih agar pengendara berhati-hati karena di daerah ini kangguru masih berkeliaran. Wah aku dan Mas uda penasaran, akankah kami bertemu dengan hewan asli Australia ini di jalanan. Hihihi….

Sepanjang jalan yang kami lewati adalah padang rumput, perbukitan, peternakan kuda ato sapi. Berganti-ganti pemandangannya. Ada sungai yang membelah, kemudian bukit kapur. Anak-anak keliatan asyik, sampe ketiduran, hehe… Sekitar pukul 12 siang, kami memasuki kota Ballarat. Asli deh, sepinya ga ketulungan. Kupikir Melbourne tuh sepi, lha ternyata Ballarat lebih sepi. Yang nampak lalu lalang di jalan raya tengah kota bisa dihitung dengan jari. Tapi emang kotanya kereeennn… Bersih banget! Mungkin karena yang ngotorin alias manusianya juga jarang. Coles, supermarket gede itu cuma ada sebiji di kota ini, sepanjang yang kuliat.

Setelah beristirahat di taman bungan cantik depan gedung parlemen Ballarat dan nyari toilet, kami meluncur sekitar 15 menit ke objek wisata Sovereign Hill. Oya, Sovereign Hill ini dulunya merupakan perkampungan tambang emas pada tahun 1850-an. Sekarang uda ga ada lagi penambangannya, cuma tetap dilestarikan sebagai pengingat, bahwa dulu memang daerah ini terkenal akan kandungan emas murni 24k.

Mungkin karena besoknya adalah hari libur nasional, Sovereign Hill rame dikunjungi orang. Kami antre dulu untuk membeli tiket masuk. Lumayan juga harganya. Alhamdulillah banget ada concession untuk student, dapet diskon lumayan deh.

SavedPicture-2014417154236.jpg

Selesai urusan tiket, kami langsung disuguhi pemandangan ala perkampungan cowboy, hehe…. Gersang, panas, kering, berdebu pula. Alamak!! Mana ga bawa stroller untuk adhek pula. Pegel deh nanti ini, bakalan tak gendong ke mana-mana. Hehehe….

Ada andongnya juga, hihi

Ada andongnya juga, hihi

Untuk wisatawan, disediakan omprengan dari besi, kali aja pengen nyoba mendulang emas. Banyak niy bule-bule pada jongkok, ngaduk-aduk pasir dan air, penasaran pengen liat bijih emas itu kayak gimana. Aku jadi mikir, cuma objek wisata gini aja bisa dibikin terkenal yah, padahal aku yang lahir dan besar di Kalimantan Selatan dan terkenal dengan pendulangan intannya, belum pernah sekalipun berkunjung ke sono. Oh Indonesiaku, kamu jauh lebih indah….

Ayak terus sampe dapet emas

Ayak terus sampe dapet emas

Ada tenda-tenda untuk tempat pertemuan sepertinya. Kemudian ada rumah kecil banget dari kayu buat tempat tinggal pekerja tambang. “Hihi kayak begini mah, di Purwodadi juga banyaaakk”, komentar Mas Bayu yang segera kami iyakan.

Yang membuatku tertarik malah tenda warung ini, membayangkan para pekerja tambang zaman baheula kalo nongkrong-nongkrong di warung seuprit. Lucu yah….

Pas lagi keliling, kebetulan pukul 2 siang ada barisan tentara-tentaraan akan bersalvoria. Itu atraksi rutin untuk pengunjung. Salah satu petugas memintaku menjauh, karena aku menggendong adhek, karena mungkin akan berbahaya untuk indra pendengaran anak. Akhirnya aku, Mas dan anak-anak nonton dari kejauhan. Setelah mereka berbaris, hormat bendera dan bersalvo, pengunjung boleh meminta sesi foto bersama mereka. Kami yang lagi bingung nyari Mas Bayu sekeluarga jadi ikutan minta foto bareng juga ama tentara ramah ini, hahaha….

Oya, kebetulan banget jam segitu, ada atraksi di Pour Gold. Pengunjung bisa menyaksikan proses bagaimana emas batangan dibentuk. Dari serpihan, dibakar dengan pemanasan 6000 derajat Celcius hingga menjadi sebatang emas. Asyik banget!¬†Setelahnya, ada tempat penjualan koin bersepuh emas. Aku dan Mas membeli satu koin, harganya AUD 12, bergambar kangguru. Lucu deh…

Menyusuri kota ini serasa membawa kita ke masa lalu. Bangunan-bangunan tua, restorannya yang juga nampak antik, bahkan toko souvenir pun keliatan masih seperti dulu dengan penjaganya yang berbusana gaun besar ala Little Missy (masih inget filmnya?). Aku dan Mbak Dewi, istri Mas Bayu, pengen banget bisa berfoto dengan gaun besar itu. Kapan lagi bisa bikin foto keluarga di sini. Tapi sayangnya, setelah memasuki studio foto tersebut, ternyata antrean sangat panjang. Kami diperbolehkan berfoto lain hari, tanpa harus membayar tiket masuk lagi. Oooo, kecewa deh. Ga mungkin ke sini cuma untuk foto, jauhnya itu lho. Lagian setelah melihat daftar harga yang terpampang, aku dan Mbak Dewi merasa beruntung, soalnya ternyata harus bayar lagi AUD 78. Masih belum net, ada tambahan charge¬† lain juga. Jyaaahh….. kirain gratis bo!

Ya sudahlah…..

Hari uda semakin siang, anak-anak kelaperan, apalagi bapak-bapak. Kami mencari tempat rindang di bawah pohon, persis di sebelah restoran. Ada meja kursi yang ditata untuk piknik. Tap water juga disediakan. Bekal keluar, tuker-tukeran dengan keluarga Mas Bayu, semua maem dengan lahap.

Selesai maem dan beristirahat sejenak, kami tuntaskan petualangan hari ini ke Gold Museum yang berseberangan dengan pintu masuk Sovereign Hill. Tiket ke museum ini uda sepaket dengan Sovereign Hill, jadi sayang kalo dilewatkan. Melewati Gift Shop dan mengagumi aneka souvenir yang harganya ga murah di sana uda cukup buatku.

Mari kita menuju ke Gold Museum. Di dalamnya kita bisa melihat sejarah Sovereign Hill, aneka koin emas, bermacam bijih emas lengkap dengan riwayatnya, dan ada pula bioskop untuk pengunjung yang ingin menyaksikan kisah Sovereign Hill. Bagus lho museumnya!

Faqih dan adhek betah di sini, padahal bagi sebagian kita yang berkeliling di museum Indonesia, mungkin membosankan ya. Tapi memang di sini, museum dikemas dengan apik dan membuat pengunjung betah.

Hingga akhirnya, sampailah kami di Gift Shop, again! Yah ngiler lagi deh. Hihi…. Mas beli gantungan kunci di sini. Lumayan lah, murah meriah, cuma AUD 7, untuk kenang-kenangan bahwa kami sekeluarga pernah bertandang ke Sovereign Hill.

Bye The Beautiful Ballarat!