.: School is Fun, Ma :.

Ga terasa, tahun 2015 sampai juga. Artinya sesuai dengan kalender pendidikan negara Australia, Faqih harus masuk sekolah dasar. Untuk anak yg orangtuanya mendapatkan beasiswa master dari Pemerintah Australia seperti ADS/AAS, anak-anaknya berhak atas penggratisan biaya sekolah di sekolah publik. Sedangkan bagi semua anak yg orangtuanya sedang mengerjakan riset/menjalani pendidikan doktoral, apapun sponsor beasiswanya, InsyaAllah gratis.

Tapi di akhir tahun 2014, kami sempat ketar ketir karena tidak seperti biasanya, kebijakan penggratisan biaya ini tak kunjung keluar karena Pemerintah Tony Abbot mengubah beberapa hal, padahal pihak sekolah meminta orangtua melengkapi syarat pendaftaran dengan kebijakan secara tertulis ini. Sementara Departemen Edukasi tak kunjung mengirimkan berkas yang kami minta berulangkali. Ntah bagaimana akhirnya, aku dan suami udah pasrah. Mungkin karena Faqih terdaftar sejak kindergarten sebagai siswa di sini, campur tangan internal terjadi sehingga akhirnya pihak sekolah dasar mengirimkan pemberitahuan secara tertulis bahwa Faqih diterima sebagai siswa. Alhamdulillah, InsyaAllah pada tanggal 2 Februari 2015 nanti, Faqih bisa masuk menjadi murid kelas Preparation di Brunswick South West Primary School (BSWP) yg letaknya sangat dekat dengan flat tempat tinggal kami. Sebenarnya tak banyak alasan kami mengapa memilih sekolah ini selain karena faktor jarak. Bunyi lonceng sekolah pun terdengar jelas dari flat. Sekolahnya yg sekarang berhadapan dengan kindergarten nya dulu. Banyak juga teman-teman dari kinder Faqih yg melanjutkan sekolah ke BSWP juga sehingga aku berharap proses adaptasi Faqih tidak akan selama dan serumit ketika dia di kinder dulu.¬†Apalagi sejak November dan Desember 2014, Faqih dan teman-temannya udah menjalani 3 kali pengenalan dengan sekolah barunya. Mereka juga dipasangkan dengan senior yg berada pada 1 level kelas di atasnya, misalnya dengan siswa grade 1 yg dikenal atas dasar permintaan orangtua atau kesamaan sekolah asal. Sistem ini dikenal dengan nama sistem “Buddy“. Selain mencegah bullying dari senior, juga meluruhkan rasa canggung dari murid baru. Pada awalnya Faqih mendapat buddy orang lokal, Amanda namanya. Amanda sangat telaten membimbing Faqih. Faqih juga terlihat menikmati sekolah barunya walau pada jam pertama sempat menangis mencariku yg sedang mengikuti pertemuan para orangtua di perpustakaan. Alhamdulillah sebulan kemudian ketika kelas definitif akan dimulai, kami menerima surat lagi dari sekolah yg memberitahukan bahwa Faqih dipasangkan dengan Queena, putri Mas Bayu dan mbak Dewi yg udah kami anggap seperti keluarga sendiri di sini, selain karena suami pernah menjadi anak angkat kos di flat Mas Bayu juga karena rumah kami berdekatan dan sama-sama pendatang dari Jawa. Mbak Dewi senang sekali waktu tahu Faqih sekelas dengan Queena, karena mungkin ketika Mbak Dewi sedang sibuk, Queena bisa aku ajak pulang ke rumahku dulu. Aku juga senang karena Faqih komunikasinya bisa lebih baik dengan adanya Queena sebagai buddy.

2 Februari 2015

Hari pertama, Faqih yg sangat antusias sekolah karena sejak bulan sebelumnya udah counting down hari demi hari, bangun pagi sekali kemudian sarapan, mandi dan berpakaian. Berangkat pukul 8.30 pagi¬†diantar aku, adhek di rumah karena Bapak sedang ga ke kampus. Eh ternyata untuk anak Preparation, khusus hari itu masuk pukul 10. Hehe… ya udah, kutawarkan pada Faqih, apa mau pulang dulu atau mau lihat assembly. Assembly adalah upacara ala Aussie setiap Senin pagi, biasa dilakukan dalam aula sekolah. Faqih pengen lihat ternyata, jadi bersama Mbak Dewi dan Queena yg baru datang, kami pun menuju aula.

Mengamati upacara ala Aussie yg sangat berbeda dengan upacara di sekolah Indonesia cukup menarik bagiku. Anak-anak diminta duduk di lantai berdasarkan pengelompokan kelas kemudian Kepala Sekolah memberikan kata sambutan yg singkat, dilanjutkan pemutaran lagu kebangsaan Australia yakni Australian Anthem di mana anak-anak diminta berdiri sambil bernyanyi, dan dilanjutkan dengan pesan-pesan dari pustakawan, guru olahraga atau komite sekolah, lalu ditutup oleh Kepala Sekolah. Para orangtua beserta balitanya akan berdiri di sisi aula sepanjang acara, ikut mendengarkan dan memperhatikan. Maklum yah di sini jarang yg punya nanny atau asisten rumah tangga, jadi di acara apapun pastilah ada para bayi. Simpel dan berkesan, itulah yg kulihat pada assembly pertama Faqih.

Alhamdulillah pagi itu berlalu dengan lancar. Faqih ga rewel sama sekali, hanya minta diantar sampai ke dalam kelas, lalu kuajak berkenalan dengan Aisya, putri Mbak Yuli yg juga merupakan tetangga kami di 3055 (anak Indo ngumpul semua di 1 kelas kayaknya niy hihi) dan Queena. Mereka menunjukkan tempat penyimpanan tas, jaket dan toilet kepada Faqih. Tak lama Faqih menghampiri Mitsuki, teman karibnya sejak kinder, dan langsung asyik bermain lego serta blocking bulding. Aku sempatkan berbincang sebentar dengan ibu Mitsuki serta mengambil foto Faqih, lantas kutemui Carly, guru kelas Faqih untuk memperkenalkan diri. Waktu aku pamit, Faqih tetap tersenyum. Sempat hati ini berbisik sedih, untuk pertama kali meninggalkan Faqih sendiri, di sekolah luar negeri yg masih asing baginya dalam durasi waktu panjang hingga sore hari. Mellow, huhu…

Hanya Allah sebaik-baik penjaga, aku titipkan putraku padamu ya Rabb…

Siang berlalu.

Aahh…. Tak sabar rasanya ingin menjemput Faqih pada sore hari. Pukul 3 lebih sedikit, aku udah siap keluar rumah dan menuju sekolah. Akhirnya bel sekolah berbunyi pukul 3.30 sore, Faqih keluar kelas dengan riang. Aku peluk dan cium pipinya berkali-kali. Rindu…. dan sepanjang perjalanan pulang, Faqih asyik bercerita tentang pengalaman hari pertamanya sekolah dan pelajarannya. Beberapa kali sempat terucap, “Faqih senang sekolah di primary school Ma…”

Waahh senang dan lega sebagai orangtua mendengar kalimat dan bahagia Faqih. Alhamdulillah, bayiku tak terasa telah semakin besar.

Mudah-mudahan School is always fun buatmu ya Nak. Barokallahufiyk anak shalih…..

*karena ada sedikit masalah pada blog, foto akan menyusul yah, maaf atas ketidaknyamanan ini*