.: Sebulan di Melbourne :.

20 Februari 2014. Itulah awal kakiku menjejakkan diri di Melbourne. Dingin, sepi…. Membuatku sedih dan merasa rindu dengan tanah airku sendiri. Indonesia yang hangat dan ramah. Seketika bayangan Mama tercinta di Banjarmasin menyeruak. Membuatku menangis di 2 minggu awal kedatangan kami. Apalagi flat yang kami huni memang sepi. Cuma ada Mbak Yus dan Mas Abdi orang Indonya, dan Mbak Yus hampir tiap hari berkarir di Vicmart, kedua putri mereka sekolah hingga sore. Penghuni lain adalah para jompo orang lokal yang tak punya sanak saudara dan akhirnya hidup seorang diri di sini. Flat ini kayak ga ada tanda kehidupan.

Ibu mertua yang menjadi tempat curhatku, menguatkan dan memberi banyak saran. Kebetulan hp baru beliau bisa whatsapp-an jadi ngobrolnya bisa lebih intens. Alhamdulillah ada duo kecil tercintaku juga yang selalu ramai. Sejak Mas aktif kuliah, hanya duo inilah teman ngobrolku. Mas seakan mengerti kondisi ini. Di sela kesibukan kuliahnya, Mas berusaha mengajakku ke lingkaran teman baru. Mas daftarkan aku ke whatsapp pengajian untuk anak, Paguyuban 3055 dan aku akhirnya masuk ke dalam grup pengajian ibu-ibu. Alhamdulillah, sejak itu duniaku mulai berwarna. Ada banyak acara keagamaan dan ukhuwah di sini. Faqih yang mulai masuk sekolah, memberi tambahan kesibukan baru untukku, mengantar dan menjemputnya 3 hari dalam seminggu. Dapur dengan alat-alat elektronik lengkap mulai membuatku betah memasak dan bereksperimen, tentunya didukung para suporter tersayang; Mas dan anak-anak.

Sambungan internet yang sempat bermasalah udah teratasi. Jadi lebih mudah ber-skype ria dengan orangtuaku di Banjarmasin. Tiap weekend, Mas menawarkan kami menikmati tiap sudut kota Melbourne terutama taman-taman cantik dan arena bermainnya yang selalu membuat Faqih Nizar gembira.
Akhirnya aku sadar, bahwa kebersamaan kami di sini adalah hal yang paling berharga.

Where the home is where your heart……

Pepatah itu benar adanya. Kuresapi hikmah kami berkumpul di sini, mengingat kembali niatan semula untuk menemani suami dan membuat anak-anak dekat kembali dengan bapaknya, terutama Nizar. Sejak lahir, Nizar yang ga ditungguin Mas pas lahir, memang sering ditinggal Mas karena persiapan berangkat ke Australia. Jadi anggaplah ini sebuah usaha merekatkan kembali waktu kebersamaan yang pernah hilang.. Heuu, bahasanya rek….

Tips untuk yang mengalami hal ini ada beberapa menurut saya :

  1. Niat. Ingat-ingat kembali akan niat semula yang membuat kita datang ke sini
  2. Dukungan orang terdekat. Penting meminta saran terutama doa agar ketika lagi galau, ga sibuk menghujani socmed kita dengan segala keluhan. Bisa ke suami, orangtua, saudara dll.
  3. Doa. Ini yang paling utama. Minta ke Allah agar dikuatkan. Di negeri orang memang harus kuat, tegar, tahan banting dan istiqomah. Semakin dekat dengan Sang Pencipta akan membuat batin terasa lebih tenang dan siapĀ menghadapi apapun.
  4. Mencari teman sesama Indonesia. Rasa kangen pada tanah air itu manusiawi sekali ya. Berkumpul dengan teman-teman sebangsa akan membuat rindu itu sedikit terobati. Mereka, akan seperti keluarga kita sendiri di negeri asing. Saling membantu dan tolong-menolong akan muncul sebab rasa senasib sepenanggungan itu ada. Seperti halnya kami yang memiliki Paguyuban 3055, benar-benar guyub! Alhamdulillah.
  5. Terakhir, berdamai dengan diri sendiri. Nikmati detik demi detik di sini yang insyaAllah, kelak akan jadi kenangan dan kita rindukan. Toh ga selamanya kan kita tinggal di sini. Datangi keindahan dan hal unik lainnya dari kota di hadapan kita sekarang dan enjoy it!

 

 

 

Ber-skype ria dengan Uti-Akung, pengobat  rindu

Ber-skype ria dengan Uti-Akung, pengobat rindu