.: SURAT UNTUK SALMAN AHMAD GIFRI TERCINTA :.

Banjarmasin, 3 April 2017

Assalamu’alaikum nanda Salman sayang,

Apa kabarmu anakku?

Malam pertama setelah prosesi pemakamanmu selesai, mata Mama sulit terpejam. Apalagi hujan rintik kemudian turun. Mama ingat jasadmu yg terbaring sendiri, sepi, di tengah hutan belantara. Tapi sebenarnya Salman sudah di surga ya Nak, sedang bermain dan becanda bersama Allah dan para bidadari. Salman pasti senang di sana, dijaga Nabi Ibrahim as. Adakah Salman rindu pada Mama seperti Mama yg sedang kangen merasakan tendangan lembutmu dalam perut Mama?

Mama takkan pernah lupa saat saat itu.

Jumat malam, perasaan Mama terasa aneh, seharian Mama ga merasakan gerakan Salman. Mama gelitiki dan menepuk lembut perut Mama dengan harapan Salman akan membalas lewat tendangan. Tapi nihil. Mama panik. Biasanya Salman senang sekali begitu mendengar suara kakak kakak yg ramai, Salman akan berputarputar dengan riang dalam perut Mama. Entah apa yg terjadi, Salman tetap diam saat itu. Saat Mama berusaha tenang, ada 2 gerakan lemah Salman, tak seperti biasanya. Perut Mama pun terasa kencang. Persis seperti kontraksi palsu.

Apa Salman capek?

Hari itu Jumat, 31 Maret 2017. Hari penerimaan terakhir SPT Tahunan di instansi Mama. Sibuk sekali jelang hari itu, apalagi bersamaan dengan hari terakhir Amnesti Pajak juga. Sudah seminggu ini pula Mama memang kurang sehat, rasanya lemah dan lemas.

Sedari Jumat pagi itu aktivitas Mama memang agak berlebihan. Pagi pukul 6 Mama meluncur naik motor sendirian untuk absen setelah izin ke atasan Mama, lalu kembali pulang dan menyiapkan mas masmu sekolah. Pukul 7.30 Mama berangkat ke Polresta untuk mengurus perpanjangan masa berlaku SIM C Mama yg akan habis di hari Senin, dan ternyata sejak Kamis, Polresta sudah tidak melayani pembuatan dan perpanjangan SIM lagi. Pengurusannya dialihkan ke SIM Corner Duta Mall, yg baru akan buka pada pukul 10. Mama menengok jam tangan, masih 2,5 jam lagi. Mama putuskan pulang, menunggu di rumah. Pukul 9 Mama berangkat lagi ke Duta Mall. Antrean sudah banyak. Alhamdulillah selesai juga urusan SIM pada pukul 11. Mama piket Amnesti Pajak hari itu, shift Mama pukul 12 siang. Mama langsung ke kantor, memakan nasi kotak jatah Mama dan siap jaga pukul 11.40.

Semua berjalan lancar Mama pikir. Shift Mama berakhir pukul 16, tapi karena ada berkas yg masih belum beres, Mama baru mundur pukul 16.30. Saat itu punggung Mama sakit sekali. Mama sempat tanya ke Om Zainal, teman di sebelah meja, kenapa sandaran kursi terasa tak nyaman.

Akhirnya Mama kembali ke ruangan Mama, menyandarkan punggung. Pukul 18 Mama pamit pulang ke Kepala Kantor yg kebetulan berpapasan di lorong menuju mesin absensi. Meluncur pulang sendiri di tengah gerimis dan hari yg mulai menggelap, meninggalkan kesibukan di kantor yg makin bertambah ramai.

Di rumah, Mama disambut kakak kakakmu. Mama langsung tiduran, lemas rasanya. Mama ingat waktu tekanan darah Mama dicek petugas medis di SIM Corner, angkanya menunjukkan 90/70. Rendah sekali untuk Mama yg sedang hamil Salman. Mama sempat bilang di grup WA teman teman SD, jangan sampai ketemu dokter Nida di IGD RSUD Ulin karena lemas mengantre SIM. Letak SIM Corner Duta Mall berdampingan dengan RSUD Ulin, dan salah satu teman SD Mama bertugas di situ.

Salman sayang,

Hari ini usia Mama bertambah satu bilangan. Tapi kemarin pagi, Mama harus memakamkanmu. Tak pernah Mama sangka, harus belajar mengenal rasa kehilangan melalui kepergianmu.

Berat sekali….

Tapi Mama harus bisa.

Pantaslah Allah janjikan balasannya rumah di surga. Semoga Engkaulah yg kelak membukakan pintu rumahnya untuk Bapak, Mama dan kakak kakakmu. Aamiin yaa Rabbana.

Semoga Allah mampukan kami menjadi ahli surga sepertimu ya Nak. Sungguh memandang kematian itu tak lagi menakutkan, karena itulah gerbang perjumpaan Mama dengan Salman nanti.

InsyaAllah.

Terima kasih telah mengajarkan banyak hal pada Mama dalam periode hidupmu yg sangat singkat ; 25 minggu 1 hari dalam rahim Mama, dan 14,5 jam setelah Salman dilahirkan.

Maafkan Mama ya Sayang.

Tak mampu menjagamu dengan baik.

Tak kuasa mendampingimu yg sekuat tenaga bertahan hidup di IGD RSUD Ulin karena Mama tertahan di kamar perawatan RS Islam.

Tunggu kami di sana ya Nak. Nanti Salman bisa bermain bersama Bapak, Mama, Mas Faqih dan Mas Nizar lagi.

Mama ingin memeluk dan menciummu karena tak sempat melakukannya sama sekali. Sungguh ingin….

 

Dari kami yg selalu menyayangimu. Mama merindukanmu, sangat.

Ditulis untuk mengenang kepergian ananda Salman Ahmad Gifri, putra ketiga kami.

Lahir : 1 April 2017 pukul 10.00 WITA

Wafat : 2 April 2017 pukul 00.30 WITA

Dimakamkan tanggal 2 April 2017 pukul 11 WITA di Alkah Keluarga Liang Anggang