.: Ceritaku Ikut Pemilu di Melbourne :.

Kedatangan kami ke Melbourne sekeluarga bertepatan dengan tahun politik di Indonesia. Itu artinya, aku dan mas bakal ngerasain nyoblos untuk kali pertama di Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Melbourne. Sempat was-was pada awalnya karena pendaftaranku secara online di http://pplnmelbourne.com.au gagal. Syukurlah ada ibu-ibu dalam komunitas pengajian wanita yang memberiku nomor kontak pegawai KJRI yang tugasnya mendata pemilih baru di sini. Setelah sms ke nomor beliau dan memberikan alamat emailku, aku dikirimi formulir pendaftaran yang harus diisi dan dikirimkan balik ke beliau melalui fax atau email. Kalo Mas, karena mendaftar lebih awal, beliau dapat undangan yang dikirimkan via pos seminggu sebelum Pemilu diadakan di sini.

Tanggal 5 April 2014 adalah jadwal Warga Negara Indonesia yang berdomisili di Melbourne memberikan hak suaranya. Tempat Pemungutan Suara di KJRI buka sejak jam 9 pagi hingga 8 malam waktu Melbourne. Tapi penghitungan suara tetap akan dilakukan tanggal 9 April, barengan dengan Pemilu di Indonesia. Kami sekeluarga berangkat dengan diiringi ocehan Faqih dan Nizar yang sibuk bertanya, “Mo ke mana?”, “Nyoblos itu apa?”, “Pemilu itu apaan?”. Hadeeuuuh…. hahaha…. Oh iya, jangan lupa membawa paspor yaa.

Sampe di KJRI pukul 12 siang, uda rame euy. Banyak stand makanan khas Indonesia dan para WNI yang sibuk beramahtamah. Saya nyempetin mejeng dulu di depan gerbang KJRI sebelum masuk ke area pencoblosan.

SavedPicture-20144714153.jpgBedanya penyelenggaraan Pemilu di luar negeri, selain dari penundaan proses penghitungan, adalah kertas suara yang diberikan kepada pemilih hanya 1, yakni untuk memilih anggota legislatif DPR. Ga kayak di Indonesia yang memilih DPR, DPRD Provinsi dan Kota serta DPD (4 kertas suara). Nambah wawasan deh jadinya.

Pemilu kali ini katanya lebih semarak daripada Pemilu tahun 2009. Saking banyaknya WNI yang datang, stand makanan itu ampe ketutupan manusia yang berlalulalang. Ini mau nyoblos atau wisata kuliner-an siy, hihi…ketauan ya. Lirak-lirik, tapi belum ada yang cocok di selera saya. Ada stand kambing guling tapi super rame dan harus antre 15 menit. Pamfletnya buat ngiklan juga kocak, hihi…

SavedPicture-201447141513.jpg

Dan akhirnya, duo Faqih Nizar yang berangkat dalam keadaan riang, pulangnya dalam keadaan tepar, wkwkwk….

SavedPicture-201447141531.jpg

 

.: Paguyuban 3055 Brunswick :.

Alhamdulillah, senang bisa tinggal di Brunswick West, terutama di daerah yang kode posnya masih dalam lingkup 3055. Komunitas Indonesia, yaitu mahasiswa dan keluarganya, yang flatnya ada di daerah ini memiliki Paguyuban 3055 yang benar-benar nyedulur, maksudnya kental rasa kekeluargaannya. Motornya tentu saja Bu Lurah, panggilan untuk Mbak Iyik, yang orangnya super rame dan baik hati. Beliau juga koki andalan dalam setiap acara makan-makan kami, hihi… Bagaikan memiliki sebuah keluarga baru di sini, yang tentu saja mengobati rasa kangen pada orang-orang terkasih di Indonesia. Baik-baik semuanya…

Bakar sate dan maem bakso bersama

Bakar sate dan maem bakso bersama

Paguyuban 3055 memiliki acara yang sifatnya insidentil dan rutin. Kalo ada anggota yang telah menyelesaikan studinya di sini dan akan kembali ke Indonesia, kami berkumpul di taman-taman sekitar Brunswick West. Ngadain acara barbeque, makan dan bercengkerama bersama sambil berpamitan. Terakhir tentu saja ngeluruk ke rumah yang bersangkutan pada malam sebelum mereka pulang untuk memberikan sedikit kenang-kenangan. Terus kalo hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Idul Adha, biasanya juga diadakan acara kumpul plus makan bersama lagi. Kasnya tentu aja ada, berasal dari urunan member, seperti kelakar salah satu member yang telah back for good ; GUYUB itu ada PAGU-nya, haha…. Kalo ada anggota yang berulangtahun, undangan makan juga disebar. Ngumpul-ngumpul lagi sambil bercengkerama dan makan, qeqe…

Yah, bisa-bisa endut niy di sini, hihi…..

Ketika masa liburan tiba, ada usulan untuk wisata keluarga bersama. InsyaAllah, musim dingin nanti rencana untuk melihat salju di Mount Buller udah terlontar. Semoga bisa terealisasi, soalnya kalo ga rame-rame itu kurang seru 🙂

Aah liburan …. Bahagia mendengar kata itu, hehe….

Abis ngumpul, foto bersama dulu

Abis ngumpul, foto bersama dulu

.: Sebulan di Melbourne :.

20 Februari 2014. Itulah awal kakiku menjejakkan diri di Melbourne. Dingin, sepi…. Membuatku sedih dan merasa rindu dengan tanah airku sendiri. Indonesia yang hangat dan ramah. Seketika bayangan Mama tercinta di Banjarmasin menyeruak. Membuatku menangis di 2 minggu awal kedatangan kami. Apalagi flat yang kami huni memang sepi. Cuma ada Mbak Yus dan Mas Abdi orang Indonya, dan Mbak Yus hampir tiap hari berkarir di Vicmart, kedua putri mereka sekolah hingga sore. Penghuni lain adalah para jompo orang lokal yang tak punya sanak saudara dan akhirnya hidup seorang diri di sini. Flat ini kayak ga ada tanda kehidupan.

Ibu mertua yang menjadi tempat curhatku, menguatkan dan memberi banyak saran. Kebetulan hp baru beliau bisa whatsapp-an jadi ngobrolnya bisa lebih intens. Alhamdulillah ada duo kecil tercintaku juga yang selalu ramai. Sejak Mas aktif kuliah, hanya duo inilah teman ngobrolku. Mas seakan mengerti kondisi ini. Di sela kesibukan kuliahnya, Mas berusaha mengajakku ke lingkaran teman baru. Mas daftarkan aku ke whatsapp pengajian untuk anak, Paguyuban 3055 dan aku akhirnya masuk ke dalam grup pengajian ibu-ibu. Alhamdulillah, sejak itu duniaku mulai berwarna. Ada banyak acara keagamaan dan ukhuwah di sini. Faqih yang mulai masuk sekolah, memberi tambahan kesibukan baru untukku, mengantar dan menjemputnya 3 hari dalam seminggu. Dapur dengan alat-alat elektronik lengkap mulai membuatku betah memasak dan bereksperimen, tentunya didukung para suporter tersayang; Mas dan anak-anak.

Sambungan internet yang sempat bermasalah udah teratasi. Jadi lebih mudah ber-skype ria dengan orangtuaku di Banjarmasin. Tiap weekend, Mas menawarkan kami menikmati tiap sudut kota Melbourne terutama taman-taman cantik dan arena bermainnya yang selalu membuat Faqih Nizar gembira.
Akhirnya aku sadar, bahwa kebersamaan kami di sini adalah hal yang paling berharga.

Where the home is where your heart……

Pepatah itu benar adanya. Kuresapi hikmah kami berkumpul di sini, mengingat kembali niatan semula untuk menemani suami dan membuat anak-anak dekat kembali dengan bapaknya, terutama Nizar. Sejak lahir, Nizar yang ga ditungguin Mas pas lahir, memang sering ditinggal Mas karena persiapan berangkat ke Australia. Jadi anggaplah ini sebuah usaha merekatkan kembali waktu kebersamaan yang pernah hilang.. Heuu, bahasanya rek….

Tips untuk yang mengalami hal ini ada beberapa menurut saya :

  1. Niat. Ingat-ingat kembali akan niat semula yang membuat kita datang ke sini
  2. Dukungan orang terdekat. Penting meminta saran terutama doa agar ketika lagi galau, ga sibuk menghujani socmed kita dengan segala keluhan. Bisa ke suami, orangtua, saudara dll.
  3. Doa. Ini yang paling utama. Minta ke Allah agar dikuatkan. Di negeri orang memang harus kuat, tegar, tahan banting dan istiqomah. Semakin dekat dengan Sang Pencipta akan membuat batin terasa lebih tenang dan siap menghadapi apapun.
  4. Mencari teman sesama Indonesia. Rasa kangen pada tanah air itu manusiawi sekali ya. Berkumpul dengan teman-teman sebangsa akan membuat rindu itu sedikit terobati. Mereka, akan seperti keluarga kita sendiri di negeri asing. Saling membantu dan tolong-menolong akan muncul sebab rasa senasib sepenanggungan itu ada. Seperti halnya kami yang memiliki Paguyuban 3055, benar-benar guyub! Alhamdulillah.
  5. Terakhir, berdamai dengan diri sendiri. Nikmati detik demi detik di sini yang insyaAllah, kelak akan jadi kenangan dan kita rindukan. Toh ga selamanya kan kita tinggal di sini. Datangi keindahan dan hal unik lainnya dari kota di hadapan kita sekarang dan enjoy it!

 

 

 

Ber-skype ria dengan Uti-Akung, pengobat  rindu

Ber-skype ria dengan Uti-Akung, pengobat rindu

.: Hari Pertama Faqih di Denzil Don Kindergarten :.

# 3 Maret 2014 #

Hari Senin pagi pukul 8 Mas Faqih udah siap diantar ke sekolah ditemani Adhek dan Mama. Walaupun awalnya agak sulit tapi setelah diberi pengertian akhirnya Faqih paham dan bersedia juga sekolah di Melbourne. Mama ngerti, pasti bukan hal yang mudah bagi Faqih untuk beradaptasi lagi di sekolah baru dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun. Apalagi  Faqih akan bersekolah di negeri yang benar-benar masih asing baginya, bergaul dengan teman-teman yang belum dia kenal sama sekali dan menggunakan bahasa yang belum sepenuhnya dapat ia mengerti. Denzil Don adalah taman kanak-kanak biasa (public kindergarten), pastinya bahasa pengantarnya sehari-hari adalah bahasa Inggris. Belum mulai saja mama udah merasa mual, jadi bukan hanya Faqih yang berat, Mama pun merasakannya. Jadi agar psikis Faqih tenang, Mama janji akan menemaninya all day, sepanjang hari di hari pertamanya bersekolah. Adhek juga turut serta, memang agak repot karena selain menyiapkan bekal sekolah Faqih dan printilannya, Mama juga harus membawa bekal makanan untuk menyuapi adhek nanti dan baju ganti. Buat jaga-jaga, kali aja adhek ngompol.

Sambil nyiapin Faqih, Mama sempat nanya ke Bapak, apakah formulir dan kelengkapan Faqih yang diharuskan pihak sekolah untuk diisi udah diselesaikan Bapak. Bapak menjawab udah. Jadi Mama ga berpikir membawa apa-apa lagi. Plong deh rasanya. Setelah semua siap, pamit dengan Bapak yang juga sedang berkemas pergi kuliah, Mama menggandeng Faqih dan adhek serta menenteng tas sekolah Faqih. Jalan kaki ? Yuppp…. hampir semua anak sekolah di sini jalan kaki lho, dengan mencangklong tas sekolah mereka yang terlihat berat. Ada juga yang naik sepeda, otopet atau transportasi publik. Tapi rata-rata siy jalan kaki. Lagipula sekolah Faqih dekat, estimasi Mama jarak tempuhnya 10 menit, ternyata ga nyampe 6 menit pun udah nyampe. Alhamdulillah, sambil lihat-lihat suasana pagi di Brunswick West, cerita ini itu agar Faqih dan adhek semangat mendaki eh jalan kaki, sampe juga kami di Denzil Don Kindergarten.

Mejeng dulu di hari pertama

Mejeng dulu di hari pertama

Joanne adalah guru di Green Group, kelas yang akan dihuni Faqih. Setelah memperkenalkan Faqih ke Joanne, ada staf administrasi yang menemui Mama dan menanyakan formulir pendaftaran. Teringat percakapan dengan Bapak tadi, Mama menjawab sekenanya, bahwa semua persyaratan udah diisi via online. Oh ternyata, formulir yang dimaksud ga bisa diisi secara online tapi harus ditulis langsung hihi…. Banyak sekali poin yang belum bisa Mama isi, seperti nomor asuransi kami dan nomor kontak darurat orang terdekat kami. Buku riwayat kesehatan dan histori imunisasi Faqih pun diminta. Waduh…. akhirnya Mama minta izin membawa form itu untuk dibawa pulang aja. Faqih pun batal sekolah hari itu.

Lusa atau hari Rabu, Faqih kembali bersekolah, hihi hari Selasa-nya bolos karena Mama belum selesai ngisi formulir. Alhamdulillah, Faqih semangat jalan kaki menuju sekolah. Adhek juga pintar nemenin Masnya di luar ruangan, sampe bobo di pangkuan Mama diiringi denting hujan, huhu…. Dingin banget anginnya. Demi Mas Faqih, apapun deh…

Berikut kelengkapan yang harus kita bawa di hari pertama anak masuk kindergarten :

  1. Formulir yang telah diisi lengkap dan ditandatangani oleh orang tua.
  2. Buku riwayat kesehatan anak atau KMS (Kartu Menuju Sehat).
  3. Daftar imunisasi anak yang dikeluarkan oleh RS atau dokter dalam bahasa Inggris.
  4. Bukti pembayaran uang sekolah yang biasanya dibayar secara online.

 

Ceria sepulang sekolah

Ceria sepulang sekolah

Note : Hari Senin berikutnya, Mas Faqih ga boleh lagi ditungguin Mama. Sebenarnya Mama juga berniat untuk melatih Mas Faqih dan diri Mama sendiri, jadi memang Mama nguatin hati untuk pulang, ga nungguin Mas. Tapi ternyata di luar sekolah Mas, Mama mewek-mewek nangis. Takut Mas Faqih ga betah atau ngerasa takut karena ga paham dengan bahasanya, huhu.. Jadilan seharian menggalau, dan pukul 14 Mama cepat-cepat ngajak adhek jemputin Mas padahal Mas pulangnya pukul 14.30. Syukurlah Mas Faqih baik-baik aja. Good job, my little boy…. Luv U.

.: Coburg Lake Melbourne :.

Suatu Minggu di bulan Februari, masih summer yang indah, Mas ngajak kami piknik ke Coburg Lake. Agak jauh siy dari flat, tapi karena naik mobil jadi tenang aja. Setelah berkemas-kemas, Mas ngecek mobil dan nyiapin tikar piknik, aku menenteng sedikit bekal makanan dan jus, pukul 12 siang kami siap meluncur.

Melihat dari tepi jalan raya

Melihat dari tepi jalan raya

Wah dari kejauhan aja danau itu udah keliatan cantik. Kami mencari tempat parkir dulu di sepanjang jalan yang ada rambu boleh stop. Alhamdulillah ga berapa lama dapat tempat parkir yang dekat dengan tangga turun. Oya letak danau ada di bawah jalan raya, jadi harus turun tangga dulu. Kagum banget ngeliatnya, sungguh cantik. Apalagi burung-burung bebas beterbangan di danau. Ada pohon yang menjuntai juga. Syahdu suasananya, romantis kataku. Hihi….

Katanya, pohon yang menjuntai itu willow tree

Katanya, pohon yang menjuntai itu willow tree

Taman ini juga dilengkapi free playground yang lengkap, bikin mata anak-anakku berbinar.

SavedPicture-2014314125115.jpg

Meja dan kursi taman juga disediakan. Malah tempat pemanggangan elektrik juga ada. Kalo ga kebagian meja dan kursi, jangan khawatir. Rumput tebalnya menggoda kok dijadikan alas duduk atau nggelar tikar ala kami. Banyak keluarga yang mengadakan pesta barbeque bersama di sini. So….. Selamat piknik, temans.

SavedPicture-2014314125038.jpg

.: Catatan Perjalanan ke Melbourne :.

Thursday morning, 8 am. Februari 20, 2014

Melbourne International Airport

Melbourne International Airport

Alhamdulillah, akhirnya mendarat juga di Melbourne. Tertunda 4 hari dari jadwal yang seharusnya karena Gunung Kelud erupsi tanggal 13 Februari 2014 malam sehingga mengakibatkan 7 bandara di Pulau Jawa menutup operasionalnya karena tertimbun debu vulkanik tebal. Setelah konfirmasi di counter Garuda yang letaknya di bandara dan re-schedule, kami memutuskan berangkat pada hari Rabu, 19 Februari pukul 16 WIB, transit via Denpasar.

Sebelum take off ke Denpasar

Sebelum take off ke Denpasar

Perjalanan lancar, anak-anak happy karena dapet mainan dari Garuda, alhamdulillah. Ga salah deh milih Garuda, excellent service, apalagi bawa 2 krucil, alhamdulillah selalu diprioritaskan. Mulai dari tiba di Ngurah Rai hingga sampe di Melbourne. Faqih sampe bingung karena dapat mainan terus tiap ganti pesawat. Anak-anak juga sibuk main game di layar sentuh depan kursi masing-masing pake remote dan headset yang disiapkan di kantong depan seat.

SavedPicture-201441116128.jpgSavedPicture-201441116122.jpg

Oya, berhubung Ngurah Rai sedang renovasi, jarak tempuh dari terminal kedatangan domestik dengan terminal keberangkatan internasional sangat jauh. Tapi jangan khawatir, untuk penumpang Garuda terutama lansia dan keluarga yang membawa anak kecil, Garuda menyiapkan sopir dan mobil mini, kayak mobil di padang golf itu loh, entah apa namanya. Kami diantar sampe gerbang terminal internasional. Sopirnya mbak-mbak, asli mojang Priangan, uhuy. Hehe… Makasi ya Mbak !

Proses yang agak makan waktu lama terjadi di sini. Apalagi bangunan terminal internasional luas, cukup makan waktu bagi kami melewati satu demi satu loket dalam keadaan menggotong-gotong anak 2 dan perbekalan mereka. Macem-macem kan yah yang harus dibawa kalo punya krucil, mulai dari bantal leher yang disiapkan Uti Indah, pakaian ganti, obat hingga logistik. Ada cerita di balik perbekalan ini, terutama bagian logistik. Aku emang ga tenang kalo bepergian tanpa membawa bekal makanan dan cemilan yang banyak untuk krucil. Sampe-sampe kue kering nastar oleh-oleh dari Mama yang datang dari Banjarmasin ke Jogja untuk nganterin cucu-cucu kesayangannya pun kumasukin bungkusan juga, haha. Mas sempat ngomel waktu di Adisutjipto. Katanya bawaan banyak banget, apalagi makanan yang mengandung dairy gini riskan dibuang oleh bea cukai bandara. Beliau bahkan berencana akan membuang makanan yang tersisa jika akan berangkat ke Melbourne. Kutanggapi mas dengan kalem, ya dibawa aja dulu namanya bawa bocah, kalo nanti dibuang ama bea cukai/custom bandara Melbourne ga apa-apa.
Setelah proses pengecekan tiket, boarding pass kemudian pembayaran service (IDR 150 ribu/orang, hiks) dan paspor, di mana kami celingukan karena serasa kami pribumi sendiri, yang lain bule selain petugas bandara tentunya, lanjut masuk ke gate, mas lupa usulku untuk isi perut dulu di terminal domestik yang terletak di lantai 1. Lagian kaki-kaki kecil buah hati kami udah kelelahan, ditambah lapar karena udah lewat jam makan malam, membuat kami memutuskan masuk ke ruang tunggu aja. Semoga ada resto di dalam sana yang menjual nasi. Melewati deretan toko-toko duty free goods, yang lebih mirip mall, sampailah kami di ruang tunggu terdekat. Sepanjang perjalanan itu, ga ada keliatan satu pun resto bernuansa Indo, semuanya kafe yang jualannya roti, kopi, burger. Lhaa….. gimana ini, huhu…

Akhirnya kami bongkar bekal logistik kami. Lumayan, ada sereal buat Faqih, roti untukku dan mas, biskuit untuk adhek serta susu kotak boneeto. Alhamdulillah kata Mas, untung dede bawa bekal banyak, kita ga jadi kelaparan, hehe… Tuh kan, ga ada salahnya bawa bekal banyak, walopun repot nentengnya. Aku cuma beli 2 botol kecil air putih kemasan di kafe dan uang IDR 50 ribu pun melayang ke kasir

Benar-benar kayak udah di luar negeri, padahal masih di Denpasar. Sampe rada mblenger liat bule, karena selain penjaga kafe, yang tampak hanya orang bule semua. Tapi anak-anak seneng mainan di ruang tunggu berlapis permadani tebal, ada jendela kaca lebar pada salah satu dinding di mana mereka bisa sepuasnya liat pesawat di apron, sambil deket-deketin anak bule lainnya, ealah. Hihi…

Aku dan mas bergantian memonitor layar keberangkatan untuk melihat nomor gate Garuda yang akan membawa kami ke Melbourne. Hampir jam 9 malam, akhirnya tercantum juga gate 7. Subhanallah, gate 7 itu jauhnya luar biasa. Walopun dibantu oleh eskalator datar yang hanya secuil-cuil, tetap aja terengah-engah jalannya. Bule aja lari, padahal langkah mereka lebih panjang kan dari orang Indo. Fyuh fyuh, lebih parah dari gate Air Asia di Kuala Lumpur, komentar Mas.

Setelah ngos-ngosan, olahraga kok malem gini tho yo, mendudukkan tubuh lelah di kursi ruang tunggu gate 7 dan bergantian nganter anak ke toilet, salah satu petugas Garuda mempersilahkan kami boarding lebih dulu. So sweet deh punya anak kecil, emang bawa rezeki, aamiin. Tas bawaan logistik dengan pasrah diangsurkan Mas ke petugas bea cukai, tapi belum sampe diubek-ubek, salah satu dari mereka yang kelihatannya lebih senior berkata, “Itu bekal buat anak-anak kecil ini kan ya? Bawa aja Pak Bu, silahkan”. Alhamdulillah, baiknya…. Semoga Allah merahmati mas-mas juga. Aamiin…

Masuk pesawat tepat pukul 22.55 WIB sesuai jadwal dan langsung berangkat. Setelah maem cemilan, permen dan minum jus yang diberikan mbak pramugari, anak-anak terlelap karena lelah, tapi mataku sulit terpejam karena badan pegal. Pengen bobo merebahkan badan di seat tengah yang kosong karena penumpang internasional ga padat jadi banyak seat kosong, tapi khawatir meninggalkan adhek yang udah bobo pulas dengan selonjoran kaki di sampingku. Alhamdulillah, di pesawat dapat bantal, selimut, kaos kaki dan penutup mata untuk tidur. Garuda emang top deh.

SavedPicture-201441116140.jpg

Setelah tidur-tidur ayam dan sholat jamak qashar Maghrib – Isya dengan wudhu bertayamum, kulihat fajar menyingsing. Alhamdulillah, bisa nyambung sholat Subuh sekalian. Mbak pramugari keliling lagi menawarkan minuman dan breakfast. Udah pagi ternyata, berarti durasi perjalanan hanya 5 jam, ditambah beda waktu 3 jam. Ga selama yang aku bayangkan. Aku milih teh hangat dan menu irisan buah segar, nasi uduk dengan ayam bumbu kacang plus sayur tumis buncis tempe, yoghurt dan roti dengan selai plus butter. Adhek juga kupesenin menu yang sama. Kalo Mas milih menu ala bule untuk main course; kentang rebus, tomat panggang dan daging. Weh kalo aku yo ga kenyang, hihi… Pokoke nasi is the best (ilang deh prinsip food combining ku). Oya, karena lupa, waktu proses pengecekan tiket dan boarding pass Mas ga minta seat yang sejajar. Padahal, udah kuingetin. Huhu sempat ngambek waktu itu dan dibujuk Mas. Kami akhirnya dapet seat yang 2-2, Mas di belakangku. Jadi Mas duduk ma Faqih, aku ma Nizar karena Nizar masih nenen kalo mau bobo. Pada awalnya bocil bolak-balik tukeran karena adhek pengen ke bapak, ga lama mau balik ke mama, gitu terus tapi pada akhirnya kembali kayak semula.

Sebelum mendarat, pesawat sempat melayang-layang gitu dan membuat perutku serasa dikocok. Mengantisipasi huek-huek, memalukan karena hampir ga pernah huek kalo naik pesawat, kuambil kantong aircraft sickness dan kubuka. Ga lama, keluar semua deh breakfastku. Huhu laper lagi nanti jangan-jangan…. Tapi terasa lega setelah huek, tadinya pening kepala ini. Ga lama, pilot mengumumkan sesaat lagi akan mendarat di Melbourne International Airport. Temperatur udara di darat juga dilaporkan sekitar 9 derajat Celcius (aku masih ga ngeh kalo segitu tu dingin banget, ingetnya Aussie lagi summer). Anak-anak kami bangunkan, lipat-lipat selimut dan mengemasi barang bawaan kami. Breakfast adhek yang belum dimaem kujejalkan ke tas, siapa tau setelah turun pesawat adhek laper dan nyari nasi. Mas menyodorkan selembar kertas untuk declare barang bawaan di tasku, ada bagian yang harus kububuhi tandatangan.

Well, welcome to Melbourne. Ga terlampau dingin ketika masih di dalam airport (masih ga ngeh). Kami antre untuk pemeriksaan paspor dan visa, lalu ngambil barang bagasi kemudian menuju counter bea cukai untuk nyocokin isian pada kertas declare dengan barang bawaan. Alhamdulillah lagi-lagi Allah memudahkan, barang kami hanya dilihat sepintas dan ditanya apakah kami membawa susu. Mungkin karena  melihat bocil-bocil kami. Untungnya boneeto anak-anak yang tinggal 2 kotak terletak di bawah. Mas juga lupa kalo masih ada, jadi Mas jawab ga ada. Petugas custom ga mengobok-obok lagi dan dengan ramah mempersilakan kami melanjutkan perjalanan. Malah sepanjang pemeriksaan, dia tersenyum dan menggoda anak-anak kami. Oya, barang-barang seperti oba dan abon kemasan pesenan teman Mas dan bumbu-bumbu kemasan kaleng yang kubawa ditaruh Mas dalam tas ransel Faqih. Jadi ga harus mengobrak-abrik seluruh isi koper untuk diperiksa. Semua barang itu selamat, alhamdulillah ya Rabb….

Kami keluar dari bandara yang luas itu dengan bergegas karena Mas khawatir senior yang menjemputnya akan menunggu terlalu lama. Senior Mas ini juga pasutri DJP, beliau dan istrinya sama-sama kuliah di Melbourne dan membuka jasa transportasi. Lumayan terbantu dengan adanya teman yang membuka usaha ini. Setelah menyeberang jalan, whussss….sss…. angin bertiup kencang dan dingiiiiiiiiin banget, brrr…. Sontak adhek yang sedang kugendong kaget, memalingkan wajahnya dan mendekapku erat. Aku, adhek dan mas ga memakai jaket dan emang kami lalai ga mengantisipasi hal ini. Sedangkan Faqih tenang-tenang aja karena sejak berangkat dia udah mengenakan jaket. Untunglah jaket adhek kuletakkan di tas cangklong, jadi kami berhenti dulu di tempat penjemputan untuk membalut tubuh adhek. Eh ga lama, ketika adhek sedang nen dan disapa seorang policewoman yang mencoba menggoda-goda adhek, senior Mas datang.

So, selamat menikmati summer yang serasa winter eh kebalik ga ya, winter  yang serasa summer maybe ? 🙂